Kompleks Tempat Ibadah 5 Agama di Nusa Dua, atas: Masjid Ibnu Batutah |
Bangunan Masjid yang begitu besar dengan berhiaskan atap limas, tampak begitu menonjol dan terlihat jelas meski dari kejauhan. Berdiri dengan dua lantai, Masjid Agung Ibnu Batutah adalah salah satu pusat kegiatan beribadah umat muslim di pulau Bali, khususnya warga muslim di kawasan Nusa Dua dan sekitarnya.
Kesan sederhana terpancar begitu tiba di dalam masjid. Lantainya yang berwarna abu-abu tampak indah ketika dipadukan dengan dinding dilapisi keramik abu-abu tua. Lantai satu dijadikan sebagai tempat kegiatan pendidikan Al Qur’an dan pengumpulan zakat. Sedangkan lantai dua adalah tempat beribadah. Berbagai koleksi antik milik masjid, seperti bedug lama dan Al Qur’an tulis tangan menambah keindahan Masjid Agung Ibnu Batutah.
Sejarah berdirinya Masjid Agung Ibnu Batutah berawal dari keinginan warga muslim di sekitar kawasan Nusa Dua untuk mendirikan sebuah masjid. Namun, karena sulit mendapatkan izin pendirian bangunan ibadah, maka keinginan itu belum dapat dilaksanakan. Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi, yang saat itu dijabat oleh Joop Ave, mempunyai insiatif untuk membangun tempat ibadah kelima agama di satu kompleks. Ide ini berdasarkan keinginan Presiden Soeharto yang menginginkan adanya tempat ibadah kelima agama yang berdiri di satu tempat.
Pihak PT Bali Tourism Development Centre (BTDC) menghibahkan bantuan berupa tanah untuk membangun kelima tempat ibadah tersebut. Tanah itu dibagi sama besar dan luasnya. Selanjutnya, untuk pendirian bangunan diserahkan sepenuhnya kepada umat masing-masing agama, dengan aturan pendirian bangunan tersebut harus sama tingginya. Pada akhirnya keinginan warga sekitar kawasan Nusa Dua untuk membangun Masjid dapat terwujud pada tahun 1994 yang di beri nama Masjid Agung Ibnu Batutah dan diresmikan tiga tahun sesudahnya. Peresmian pembangunan Masjid Agung Ibnu Batutah bersamaan dengan Gereja Katolik Bunda Maria Segala Bangsa, dan Gereja Kristen Protestan Bukit Doa. Sedangkan Wihara Budhina Guna (Budha) baru selesai pembangunannya pada tahun 2003. Sementara itu, proses pembangunan Pura Jagat Natha baru dirampungkan beberapa tahun sesudahnya.
Meski berdampingan dengan tempat ibadah umat lain, selama ini tidak pernah ada konflik yang disebabkan ketidakharmonisan antar sesama. Bahkan, jika ada kegiatan keagamaan dalam waktu bersamaan, umat di kawasan ini berinteraksi satu sama lain untuk mempererat kerukunan. ”Toleransi kita jadikan sebuah budaya disini, masing-masing mempunyai jalan sendiri-sendiri dalam beribadah, tapi tetap menjaga kerukunan dalam bersosialisasi. Ya Alhamdulillah sampai 43 tahun lebih, tidak pernah ada masalah, kami bisa hidup berdampingan secara damai antar-umat beragama,” ujar Bapak Soleh, takmir Masjid Ibnu Batutah. [abi]
0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !